Pelajaran Luar Biasa

27 Oct 2008

221.jpgSeorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan
sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya.

Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru
berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada
kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka
berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah
“Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru
berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin
lama semakin cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang
perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika
saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan dijalankanlah
adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan,
dan
sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa
beradaptasi dan tidak lagi sulit.

Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada
murid-muridnya. “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq
itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun
kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara,
untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi
karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka,
akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai
mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai.”
“Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini dan ketat menjadi hal yang lumrah, minum khamr menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisifitas kini menjadi
suatu gaya hidup pilihan, tawuran menjadi trend pemuda, memakan harta
riba adalah hal yang biasa… dan lain lain.”

“Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi
sedikit menerimanya. Paham?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya.
“Paham buu…”

“Baik permainan kedua…” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya
Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di
luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an
yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?” Nah, nah, nah.
Murid-Muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia
ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. .. Musuh-musuh
Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan. ..
Karena
tentu kalian akan menolaknya mentah mentah. Premanpun tak akan rela
kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian
perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.”

“Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah
pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah
aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah
kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan
dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu
persatu, baru rumah dihancurkan. ..” “Begitulah musuh-musuh Islam
menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia
akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara
hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun
kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti
cara mereka…
Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah
yang dijalankan oleh musuh musuh kalian… Paham anak-anak?”
“Paham buu!”
“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak
Islam,Bu?” tanya mereka.

“Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang
Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.”

“Begitulah Islam… Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan
sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang- terangan,
mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.”

Kalau saja ummat Islam di Ambon tidak diserang, mungkin umat Islam akan
lengah terhadap sesuatu yang sebenarnya selalu mengincar mereka.
“Paham anak-anak?” “Paham Buu..”

“Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita
berdoa dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat
belajar mereka dengan pikiran masing-masing
di kepalanya.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post