Terorisme dan Cuci Otak (brainwash)

30 Aug 2009

Terorisme dan Cuci Otak (brainwash)

Oleh : dr. Salma Oktaria

Indonesia tidak henti-hentinya diresahkan oleh isu mengenai terorisme yang kian meluas di masyarakat. Terlebih setelah tragedi bom bunuh diri yang baru saja menimpa hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton baru-baru ini. Ironi memang, mengingat kejadian tersebut justru ada di saat masyarakat Indonesia tengah mempersiapkan diri menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke-64 dan bulan suci Ramadhan yang sudah di depan mata. Layaknya sebuah pesta, petasan yang begitu besar telah dinyalakan untuk menyambut hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, juga semua umat muslim di seluruh dunia. Entah apa motif dari setiap tindakan yang mereka ambil, tetapi jelas bahwa kata perikemanusiaan sudah tidak ada dalam kamus mereka.

Seiring dengan proses penyelidikan, kemudian timbul sebuah hipotesis bahwa para pelaku bom bunuh diri atau yang sering mereka sebut pengantin sebenarnya hanyalah seorang eksekutor yang sebelumnya telah dicuci otak oleh sang mastermind Noordin Muhammad Top atau yang lebih dikenal dengan nama Noordin M. Top. Terlepas dari kebenaran hipotesis ini, kami akan coba mengupas masalah cuci otak (brainwash) mulai dari sejarah hingga tekniknya apabila ditinjau dari sudut pandang medis.

Definisi cuci otak (brainwash)
Cuci otak (brainwash) adalah suatu proses pendoktrinan secara intensif yang memaksa seseorang untuk meninggalkan keyakinannya untuk suatu keyakinan lain yang baru. Tujuan dari cuci otak ini umumnya terkait masalah militer, politik, dan religius melalui proses yang cukup panjang dengan memberikan tekanan-tekanan untuk meruntuhkan pertahanan fisis dan mental seseorang.

Terdapat berbagai macam teknik untuk melakukan cuci otak, yang umumnya dilakukan saat subyek terisolasi dari kehidupan sosialnya, dengan menerapkan konsep penghargaan dan hukuman atas setiap tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan. Apabila subyek menolak untuk bekerjasama, ia akan menerima hukuman baik secara fisis maupun psikis, termasuk memutus kontak sosial, makan, tidur, hingga siksaan fisik.

Sejarah cuci otak (brainwash)
Proses cuci otak sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1950 saat perang antara Korea Utara dan Korea Selatan berlangsung. Saat itu Republik Rakyat Cina (RRC) ikut berperang membela Korea Utara, dengan Amerika Serikat dan PBB di pihak Korea Selatan. Brainwash atau cuci otak merupakan istilah yang digunakan di Amerika Serikat untuk menjelaskan fenomena banyaknya tentara Amerika Serikat yang berubah pihak membela Korea Utara setelah menjadi tahanan mereka. Dan semenjak itu, Central Intelligence Agency (CIA) dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat terus mengadakan penelitian untuk mengembangkan teknik cuci otak ini.

Selain itu, teknik cuci otak juga banyak digunakan saat perang dunia I dan II untuk membangun semangat para prajurit sejak mereka masih remaja, yang terutama diterapkan kepada para prajurit NAZI. Tujuannya adalah untuk membentuk mental prajurit yang tahan banting dan setia terhadap keyakinan para pemimpin atau partai yang mereka anut. Dan dewasa ini banyak isu yang beredar bahwa teknik cuci otak juga telah disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk membangun suatu aliran agama baru atau membuat propaganda terhadap suatu keyakinan tertentu, termasuk dalam kasus Noordin M. Top dan motif bom bunuh diri yang dilakukan oleh para pengantin. Suatu hal yang kebenarannya masih dipertanyakan dan hangat dibicarakan di berbagai lapisan masyarakat.

Metoda cuci otak (brainwash)
Terdapat berbagai macam cara untuk melakukan cuci otak, mulai dari persuasi secara vokal (sugesti), visual, bantuan obat-obatan, hingga siksaan baik secara fisis maupun psikis. Prinsipnya adalah dengan melakukan metoda tersebut sambil memasukkan suatu program atau ide tertentu ke dalam pikiran seseorang secara berkepanjangan hingga memasuki alam bawah sadarnya. Ketika sebuah nilai telah tertanam cukup kuat di alam bawah sadar seseorang, maka semakin lama nilai itu akan semakin kuat, berakar, dan permanen. Inilah yang kemudian disebut sebagai hasil dari cuci otak, dan merupakan tujuan utama dilakukannya hal tersebut.

Cara yang paling halus adalah dengan persuasi secara vokal atau visual untuk memasukkan sugesti. Hal ini dapat dilakukan dengan cara hipnosis, testimoni, hingga teknik persuasi dalam sebuah pidato atau presentasi.

Hipnosis
Hipnosis merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memasukkan sugesti ke dalam pikiran seseorang. Dengan hipnosis, akses ke alam bawah sadar akan terbuka sehingga memudahkan seseorang untuk menerima sugesti yang diberikan. Hipnosis sendiri pada awalnya digunakan sebagai salah satu metoda pengobatan di Mesir dan Yunani, kemudian menyebar ke wilayah Eropa. Seorang dokter Austria bernama Sigmund Freud menggunakan hipnosis untuk mengatasi masalah mental para prajurit saat perang dunia I dan II. Kini, teknik hipnosis juga telah digunakan sebagai salah satu pengobatan komplementer untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Pendekatan lain untuk cuci otak adalah dengan menerapkan teknik testimoni dan persuasi dalam sebuah pidato atau presentasi.

Testimoni
Teknik ini biasanya dilakukan oleh grup-grup tertentu semisal grup penyembuhan ketergantungan narkoba, alkohol,atau trauma. Tujuannya adalah untuk membentuk spirit komunitas yang pada akhirnya dapat mendorong individu yang ikut di dalamnya. Seorang peserta berdiri satu demi satu dan menceritakan kisah mereka mulai dari saat masih kecanduan hingga sembuh. Sugesti umumnya diberikan dengan menyebut kalimat saya dulu pemabuk berat dan sekarang berhenti atau saya dulu terkena kanker dan sekarang sembuh secara repetitif dari setiap peserta sebelum atau setelah bercerita. Keadaan ini dapat memberikan manipulasi psikologis pada semua peserta. Setelah sejumlah cerita mengalir dan didengar,dalam diri anggota grup tersebut akan muncul keyakinan bahwa dirinya bisa sembuh dan mengentikan kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Dengan demikian ruangan akan dipenuhi dengan rasa bersalah, rasa takut hingga harapan dan semangat untuk berubah.

Persuasi dalam sebuah pidato atau presentasi
Pernahkah Anda merasa bersemangat atau memiliki sebuah pola pikir baru setelah Anda mengikuti sebuah seminar atau pelatihan? Ataukah Anda pernah merasa sangat tertarik terhadap sebuah produk multilevel marketing (MLM) yang sedang dipresentasikan padahal Anda baru saja membeli produk yang sejenis? Apabila jawabannya adalah iya, berarti tanpa disadari Anda pernah menjadi subyek cuci otak.

Metoda ini sebenarnya tidak dapat benar-benar dikatakan sebagai cuci otak, tetapi lebih kepada manipulasi pikiran seseorang dengan sugesti. Bagian otak kiri manusia mengolah bagian rasio dan analisis, sedangkan otak kanan mengolah sisi kreatif dan imajinasi. Inti dari metoda ini adalah bagaimana cara menyibukan otak kiri sehingga otak kanan dapat diakses untuk menanamkan suatu pola pikir tanpa harus melalui proses analisis terlebih dahulu.

Bagaimanapun, apabila diterapkan terus-menerus secara periodik, teknik ini juga dapat memasukkan ide-ide dalam pikiran bawah sadar seseorang hingga menjadi suatu nilai yang berakar dan permanen (cuci otak).

Penerapan teknik penghargaan dan hukuman
Teknik ini merupakan teknik pertama yang dilakukan saat perang Korea pada tahun 1950. Prinsipnya adalah dengan mengisolasikan subyek cuci otak dari kehidupan sosialnya. Subyek akan diperlakukan sesuai tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukannya. Apabila subyek menolak untuk bekerjasama, ia akan menerima hukuman baik secara fisis maupun psikis, termasuk memutus kontak sosial, makan, tidur, hingga siksaan fisik. Namun apabila subyek bersedia untuk bekerjasama, maka ia akan menerima sebuah penghargaan dalam berbagai bentuk. Bentuk yang paling sering dari penerapan teknik ini adalah outbond, pelatihan militer, dan penggemblengan murid atau mahasiswa baru saat masa orientasi.

Kemudian, benarkah terdapat korelasi antara terorisme dan cuci otak?
Saat ini, terdapat dugaan bahwa cuci otak merupakan salah satu alasan yang kuat di balik kenekatan sikap para pengantin bom bunuh diri yang telah meneror Indonesia selama beberapa waktu terakhir. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa cuci otak umumnya dilakukan untuk tujuan militer, politik, dan religius. Ketika dianalogikan dengan pemberitaan yang ada, memang terdapat kemungkinan adanya korelasi antara terorisme dan cuci otak ini. Dengan dalih outbond dan ceramah agama yang dilakukan secara periodik, sang mastermind dapat mendoktrin para pengikutnya untuk meruntuhkan apa yang mereka yakini untuk sebuah keyakinan baru. Namun cuci otak bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan begitu saja, perlu waktu yang cukup lama untuk menanamkan ide-ide baru dalam pikirian bawah sadar seseorang sehingga kegiatan ini umumnya dilakukan terus-menerus secara periodik di sebuah area yang terpencil untuk memutus kontak sosial. Selain itu, hipnosis juga dapat dilakukan untuk memudahkan proses penerimaan sugesti.

Bagaimanapun, Anda tidak harus setuju dengan analisa kami. Pilihan tetap ada di tangan Anda. Yang terpenting kita tidak boleh membiarkan siapapun memecah-belah bangsa Indonesia, tidak juga teroris. Tidak perduli banyaknya budaya dan agama yang kita miliki, kita harus semakin kuat dan bekerjasama untuk melawan musuh bangsa ini dan propaganda yang dilakukan oleh para teroris.[](SO)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post