Puasa Mengancam Kesehatan

14 Sep 2009

Puasa Mengancam Kesehatan

Oleh : dr. Tri Rejeki Herdiana

Bapak Rudi memiliki penyakit maag kronis sedangkan Ibu Suryani memiliki penyakit Diabetes Melitus, pertanyaan mereka sama, ‘Jika kami berpuasa, berbahayakah bagi kesehatan kami?

Berpuasa akan melatih seseorang bagaimana cara untuk mengendalikan diri baik dari makanan, minuman, emosi, ataupun nafsu lainnya. Melalui puasa, seseorang akan belajar untuk membentuk disiplin dan pola hidup lebih sehat dalam diet mereka sehari-hari. Hal inipun sudah tercantum di dalam ayat Al-Quran Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kami mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]:184.

Puasa bagi kaum Muslim merupakan suatu kewajiban yang dijalankan selama 1 bulan di bulan Ramadhan. Namun belum banyak yang mengetahui bahwa ternyata puasa tersebut dapat memiliki efek yang baik bagi kesehatan. Puasa akan mengajarkan seseorang untuk mengendalikan berat badan, mengistirahatkan saluran pencernaan, mengendalikan kolesterol dan kadar gula darah. Puasa sendiri merupakan salah satu wahana untuk melatih pengendalian emosi yang berujung pada efek mengurangi stres. Stres seperti yang kita ketahui dapat mencetuskan berbagai gangguan kesehatan.

Puasa bagi mereka dengan penyakit kronis seperti asma, hipertensi, diabetes, maag, dll memang memerlukan tips dan trik tersendiri disertai beberapa persyaratan agar puasa dapat berjalan lancar. Sedangkan bagi mereka yang memang sakit dan tidak kuat berpuasa maka diijinkan bagi mereka untuk tidak berpuasa.

Bagi mereka yang memiliki kesehatan sempurna, memiliki keluhan ringan, atau memiliki penyakit kronis namun terkendali, berpuasa justru dapat meningkatkan kualitas kesehatan mereka. Bagaimana mungkin? Hal tersebut akan kita bahas satu per satu di bawah ini.

Puasa dan Penyakit Jantung (Tekanan Darah Tinggi dan Kolesterol)
Efek berpuasa bagi mereka yang sehat ataupun bagi mereka dengan kelainan jantung sudah terbukti menguntungkan secara empiris atau berdasarkan penelitian. Keuntungan ini didapatkan melalui pengendalian berbagai faktor risiko utama dari penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi, merokok, dan hiperkolesterolemia (kadar kolesterol tinggi).

Dengan berpuasa selama 12-13 jam di bulan Ramadhan, kadar natrium tubuh akan menurun dan tentunya akan menurunkan tekanan darah seseorang. Hal ini sangat baik bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi. Pengontrolan hipertensi melalui diet makanan, pengaturan berat badan, olahraga, pengendalian alkohol dan merokok, serta mengurangi stress atau emosi memang dapat dilakukan di bulan suci ini.

Berpuasa secara otomatis memiliki efek menurunkan berat badan, mengurangi pajanan rokok serta makanan sehari-hari. Minuman beralkohol sendiri sudah dilarang bagi kaum Muslim. Selain itu, Ramadhan akan memacu orang meningkatkan ibadah mereka (seperti sholat, dll) dimana ibadah tersebut dapat berarti peningkatan aktivitas fisik atau olahraga.

Selanjutnya, berpuasa dapat membuat seseorang lebih dapat mengendalikan emosi, menurunkan stress, dan lebih bahagia karena di bulan ini pengendalian emosi diwajibkan dan ibadah mereka dinilai berkali-kali lipat. Berdasarkan penelitian, kolesterol sendiri dapat dikendalikan melalui puasa yang berefek menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL yang memiliki peran sebagai pelindung jantung.

Puasa dan Obesitas
Dengan menurunkan frekuensi makan 2 kali sehari, makan dalam jumlah seimbang dan tidak makan berlebihan di kala sahur dan berbuka, maka cadangan gula dan lemak dapat terbakar untuk sumber tenaga bagi aktivitas sehari-hari. Secara otomatis, pembakaran timbunan lemak di dalam tubuh akan menurunkan berat badan yang kita miliki. Di kala berpuasa, tingkat metabolisme seseorang bergerak lebih lambat namun kondisi ini justru akan menyebabkan pembakaran lemak lebih efektif.

Puasa dan Diabetes Melitus
Puasa merupakan momentum yang sangat tepat untuk menjaga kadar gula darah kita tetap berada di dalam batas normal. Berpuasa akan mengendalikan diet dan mengistirahatkan pankreas yang menghasilkan insulin, secara sinergis hal tersebut akan membantu mengendalikan atau menurunkan kadar gula darah. Puasa dapat meningkatkan sensitifitas insulin dan kontrol metabolik melalui pengendalian berat badan.

Tentu saja berpuasa bagi mereka dengan diabetes tetap harus mengikuti jumlah kalori yang harus diasup serta aturan pemakaian obat yang harus diminum. Berpuasa dapat dilakukan bagi mereka dengan kadar gula darah yang terkontrol. Selain itu, bagi mereka dengan terapi insulin tidak dianjurkan untuk berpuasa karena dikhawatirkan adanya komplikasi yang dapat dialami dan injeksi insulin yang umumnya lebih dari sekali sehari.

Puasa dan Detoksifikasi
Berpuasa merupakan salah satu bagian dari pengendalian, penyeimbang, dan membangun nutrisi yang baik. Makan terlalu berlebihan, junk food, makanan tinggi kolesterol dan kadar gula dapat berbahaya bagi kesehatan kita. Detoksifikasi merupakan metode membersihkan tubuh dari sel-sel yang telah rusak. Puasa akan mengurangi jumlah makanan yang masuk dan membantu mengistirahatkan tubuh sehingga dapat terjadi proses detoksifikasi bagi sel tubuh yang rusak. Detoksifikasi sendiri akan membantu memperlambat proses aging atau penuaan bagi tubuh.

Puasa dan Maag Kronis
Puasa selama 12-13 jam tentunya akan mengosongkan lambung yang berujung menjadi peningkatan kadar asam lambung dimana kadar asam lambung ini akan kembali normal ketika puasa sudah usai. Dalam hal ini, lambung akan mampu beradaptasi dalam mengendalikan peningkatan kadar asam lambung. Gastritis atau maag kronis justru dapat dikendalikan karena puasa akan mengharuskan seseorang untuk makan secara teratur, mengurangi asupan makanan pencetus maag (pedas, asam, berempah) ataupun makanan berlemak, mengurangi asupan kopi dan rokok, serta mengendalikan stres dimana semua hal yang dapat dikendalikan di atas merupakan faktor pencetus terjadinya gastritis.

Pengendalian faktor risiko disini berarti pengendalian penyakit. Tentunya mereka dengan maag kronis harus memiliki beberapa kiat agar puasa dapat berjalan lancar, seperti pengaturan pola makan, hindari makanan merangsang dan berlemak tinggi, berhenti merokok, mengendalikan emosi, dan selalu sediakan obat gastritis apabila perlu. Bagi mereka dengan gastritis kronik dianjurkan untuk minum obat di kala sahur dan makan bertahap ketika berbuka.

Puasa dan Merokok
Puasa satu bulan penuh merupakan salah satu kesempatan untuk membantu mereka yang berniat menjalani hidup lebih sehat dengan cara : Berhenti Merokok. Merokok sendiri sudah diketahui sebagai salah satu faktor utama penyebab beberapa penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, PPOK, dan gangguan kehamilan. Bukankah merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memanfaatkan puasa sebagai sarana meningkatkan kualitas hidup kita dengan berhenti merokok?

Tentunya sudah dapat terlihat bahwa berpuasa ternyata memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, ditunjang dengan melatih disiplin dan merubah pola hidup menjadi lebih sehat. Berpuasa yang dilakukan dengan benar, tidak berlebihan di dalam sahur ataupun berbuka merupakan salah satu wahana guna meningkatkan kualitas hidup dan mengendalikan penyakit yang kita miliki.

Selamat berpuasa![](DA)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post